Ilmuwan rumuskan model matematika resiko hantaman gelombang Tsunami.

6 05 2009

April 2009 secara resmi tutup buku dan usai sudah pekerjaan BRR : Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Nias dalam upaya Pemerintah Indonesia dengan bantuan berbagai pemerintahan Negara Sahabat, Badan PBB dan LSM Internasional guna melaksanakan proyek berskala besar-besaran untuk menata kembali pembangunan wilayah beserta kehidupan masyarakat selepas terjadinya bencana Tsunami 26 Desember 5 tahun silam yang meluluhlantakkan pemukiman di wilayah pesisir Aceh dan p.Nias serta wilayah sepanjang tepian pantai Ujung p.Sumatera yang menghadap Samudera Hindia. Tak perlu lagi diungkapkan bahwa bagi kalangan ilmuwan tidak ada istilah tutup buku untuk menanggapi kejadian peristiwa tsunami dahsyat seperti yang menimpa wilayah Aceh terlebih kedahsyatannya yang telah merenggut korban hingga lebih dari 300.000 nyawa hanya untuk korban di wilayah Indonesia saja. Dan hingga kini ancaman bencana Tsunami selalu menggugah kalangan ilmuwan untuk melakukan beragam riset pemecahaan guna mengantisipasi bencana alam serupa di masa mendatang yang dapat berdampak tragedi memilukan bagi kemanusiaan seperti yang terjadi di Aceh. Salah satunya adalah Ilmuwan ahli Matematika Terapan dari Newcastle University yang pada mid Maret yl berhasil merumuskan suatu model matematis yang dapat menjadi suatu pegangan dasar untuk dapat memprakirakan risiko besaran bencana tsunami yang terjadi, yaitu dalam menentukan kawasan yang paling mungkin terancam sapuan gelombang Tsunami serta perhitungan waktu kapan tibanya gelombang yang merusak sesaat menghampiri pantai. Pada pemanfaatannya dalam tahap mitigasi bencana rumusan model matematika ini akan dapat mengurangi besarnya jumlah korban pada suatu wilayah terhantam Tsunami. Riset kajian Tsunami pimpinan Prof. Robin Johnson berpedoman pada anggapan dasar ilmiah yang mengakui bahwa hingga kini sungguh mustahil bagi kalangan ilmuwan untuk dapat secara tepat meramalkan waktu kejadian gempa, seperti halnya pula akan kejadian gempa berskala hingga 9 Skala Richter yang meruntuhkan lempengan bebatuan bumi hingga sepanjang 1500 km pada kedalaman dasar samudera Hindia yang menjadi pemicu munculnya gelombang Tsunami yang kemudian menghampir menghantam dengan daya rusak luar biasa dahsyat membinasakan wilayah pemukiman pantai di Aceh. Dan lintasan gelombang Tsunami ini pun bahkan melintasi hingga ke pesisir penghujung Benua Afrika walau dengan daya merusak yang memang jauh menurun. Oleh karenanya riset Prof. RObin dkk lebih berkonsentrasi dalam upaya yang diistilahkannya sebagai langkah antisipatif “next-best-thing” yakni terutama terhadap kejadian selepas gempa yang terjadi di kedalaman lautan dan berpotensi Tsunami, yaitu guna mendapatkan model rumusan matematika untuk prakiraan besaran gelombang Tsunami yang muncul menghantam suatu wilayah serta perhitungan kapan waktu kemunculannya : “approximate time frame” hingga memungkinkan pihak yang berwenang atau Pemerintah suatu negara mendapat masukan data prakiraan yang akurat hingga dapat mengambil langkah tindakan yang cepat tanggap dan tepat pada sasaran. Kajian riset Prof. Johnson yang pakar dalam ilmu Matematika Terapan dari Universitas Newcastle dikerjakan bersama rekan peneliti Adrian Constantin dari Universitas Vienna dan telah dipublikasikan dalam jurnal akademik Sains : Fluid Dynamics Riset terbitan bulan Maret yl dan dalam bidang keilmuan tersebut telah terpilih sebagai salah satu karya terbaik “best paper of the year” untuk tahun ini. Sumber: Up dates situs softpedia. / Rizal AK.

Iklan