Menangis Karena Takut pada Allah

4 09 2009

sumber   : eramuslim.com

oleh M. Arif As-Salman

Malam itu -Kamis, 27 Agustus 2009- mesjid al-Majid yang terletak di belakang kantor Konsuler KBRI Kairo masih terlihat sepi. Baru shaf pertama yang telah dipenuhi orang-orang. Mereka nampak asyik membaca al-Qur`an. Sebagian mereka tengah khusyuk dalam shalat. Alhamdulillah, masih ada tempat duduk yang kosong di pojok kiri shaf pertama. Segera saya menuju tempat itu.

Seorang pemuda Mesir, Ahsan-nama samaran- tengah larut dalam lantunan ayat-ayat Allah. Ia terlihat begitu khusyuk. Saya awalnya ingin menyapanya, tapi niat itu saya tahan, saya tidak ingin mengganggunya.

Usai shalat sunnah tahiyyatul masjid, sayapun membuka mushaf, melanjutkan bacaan al-Qur`an saya. Begitu nikmatnya terasa di rumah Allah, ketika ayat-ayat-Nya dibaca, ketenangan menyapa jiwa.

Tanpa terasa, azan Isya berkumandang merdu. Membelah kota Kairo. Suaranya memanggil setiap jiwa untuk segera datang ke rumah Allah. Sebagian orang-orang yang telah datang ke mesjid berdiri mengerjakan sunnah qabliyah Isya, sebagian lain, masih larut melantunkan kalam-kalam Allah. Ahsan saya perhatikan tidak beranjak, ia seolah telah terbenam dalam samudera ayat-ayat sang Khaliq. Jiwanya seakan terikat akan keindahannya. Ia masih membaca al-Qur`an.

Tak berapa lama kemudian, iqamah dikumandangkan. Syaikh Usamah, sang Imam tampil ke depan memimpin shalat Isya, dan selanjutnya shalat tarawih.

Ini adalah malam pertama saya shalat di mesjid al-Majid. Dulu, saya hanya sering mendengar suara indah Syaikh Usamah melalui pengeras suara, ketika saya sempat lewat di tempat itu. Namun, malam itu Allah perkenankan saya shalat di mesjid tersebut, alhamdulillah.

Memang benar, suara syaikh Usamah begitu merdu. Bacaannya fasih, makhraj dan tajwidnya begitu bersih. Sempurnalah keindahan itu. Hati saya tersentuh, jiwa saya tergugah, dan iman saya terbangkitkan. Rasa kantuk yang mencoba datang menghinggap di pelupuk mata menjadi sirna. Saya terpesona dan terbenam dalam keindahan bacaan dan kemerduan suara syaikh Usamah. Tak salah jika banyak orang yang memilih shalat tarawih di mesjid al-Majid. Walau setiap malam, bacaannya satu juz`, tapi itu tak lah berat, karena keindahan bacaan syaikh Usamah menjadikan satu juz` terasa ringan.

Ayat demi ayat dilantunkan penuh merdu. Hati seolah diaduk-aduk oleh keindahan ayat-ayat Allah. Ada rasa cinta yang begitu menguasai hati. Ada rasa rindu yang tak tertahankan pada sang Khalik. Ada rasa takut yang begitu menghantui ketika dibacakan ayat-ayat tentang azab-Nya.

Ahsan shalat di samping kanan saya. Terkadang terdengar oleh saya isak tangisnya. Ia begitu meresapi setiap ayat yang dibaca syaikh Usamah. Ia begitu paham. Ia seakan telah tenggelam dalam samudera firman-firman Allah. Ia sering kali menangis. Bahkan tangis itu sulit untuk ia tahan ketika syaikh Usamah membaca ayat-ayat (yang artinya) : “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat. Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan diatas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-A`raf [7] : 40-41).

Tangisnya semakin pecah ketika Syaikh Usamah melantunkan ayat-ayat selanjutnya, “Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.” (Yaitu) Orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A`raf[7] : 50-51)

Kisah Ahsan mengingatkan saya pada kisah Rasulullah Saw dengan Abu Mas`ud ra.. Suatu kali, Rasulullah Saw. meminta Abu Mas`ud r.a untuk membacakan pada beliau al-Qur`an. Berkata Abu Mas`ud, “Wahai Rasulullah apakah saya akan membacakan untukmu al-Qur`an sedangkan ia diturunkan padamu? Rasulullah menjawab,” Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.”

Lalu Abu Mas`ud membaca surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat, “Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” (QS. An-Nisa`[4]: 41), beliau berkata, “Cukup”, kemudian Abu Mas`ud menoleh pada Rasulullah dan ia melihat air mata Rasulullah  jatuh berderai. (Muttafaq `Alaihi)

Suatu ketika Rasulullah Saw. berkhutbah di hadapan para sahabat, beliau bersabda,” Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kemudian para sahabat menutup wajah mereka dan mereka menangis. (Muttafaq `Alaihi)

Dalam sebuah hadits beliau bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, “Tidak akan masuk neraka seorang laki-laki yang menangis karena takut pada Allah Swt. sehingga air susu kembali masuk ke dalam puting…” (H.R Tirmidzi)

Sabda beliau juga, “Tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah Swt. pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantara mereka itu adalah; seorang laki-laki yang mengingat Allah Swt. dikala sendiri kemudian mengalir deraslah air matanya.” (Muttafaq `Alaihi)

Abu Bakar r.a dikenal sebagai seorang sahabat al-bakka` yaitu orang yang sering menangis. Aisyah r.a berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang hatinya lembut, apabila ia membaca al-Qur`an ia selalu menangis.”

Dari Abu Umamah Shuday bin `Ajlan al-Bahiliy r.a Nabi Saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah dari dua tetesan. Beliau menyebutkan, satu diantaranya adalah tetesan air mata yang keluar karena takut pada Allah Swt.” (H.R Tirmidzi)

Begitu banyak hadits-hadits Rasulullah Saw. dan kisah as-salaf as-shalih yang menerangkan tentang keutamaan menangis karena takut pada Allah Swt.

Nah, bagaimana dengan diri kita? Setiap diri lebih mengetahui keadaannya masing-masing. Sudah seberapa banyakkah air mata kita menetes ketika mengingat Allah Swt? Ketika sendiri mengingat dosa dan kesalahan, ketika menyadari telah sering lalai dari perintah Allah Swt? Sudah seberapa seringkah air mata kita tumpah ketika membaca ayat-ayat Allah Swt? Ketika diingatkan dengan kematian dan dengan siksa Allah Swt.?

Sungguh tangisan Ahsan merupakan tangisan yang Allah Swt. cintai. Tangisan seperti ini akan semakin mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah Swt.

Dari saat ini mari kita mempertimbangkan air mata yang keluar, jangan sampai keluarnya air mata karena kita tidak mendapatkan keinginan hawa nafsu, jangan sampai kita menangis karena kebatilan. Bijak dalam mengeluarkan air mata merupakan pertanda jernihnya hati dan benarnya iman seorang hamba.

Mari kita menangis karena takut pada Allah Swt., mari kita berlatih untuk menangis ketika membaca ayat-ayat Allah Swt. Menangis bukan selamanya tanda cengeng, tapi tangisan yang keluar karena kebaikan adalah pertanda kebesaran jiwa, tanda kesadaran akan hakekat diri yang sesungguhnya, tanda cinta yang tulus dan tanda seorang mengenal Tuhannya. Moga kita tidak malu menangisi dosa-dosa dan kesalahan kita selama ini.

Wallahu a`lam bish-showab.





Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

22 08 2009
sumber  : arsip admin
ramadhan

ramadhan

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.

Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.

Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.

Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).





Sepuluh Langkah menyambut Ramadhan

17 08 2009

sumber : dakwatuna.com

oleh : Mochamad  Bugi

langkah

langkah

1. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)

Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia bulan Ramadan; dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, ”Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.

2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.

3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

Salafush-shalih sangat memperhatikan bulan Ramadan. Mereka sangat gembira dengan kedatangannya. Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.

4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]

6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Sambut Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadan adalah bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]

8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.

9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:

· buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.

· membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.

10. Sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.





Bulan Sya’ban “Persiapkan Ramadhlan”.

28 07 2009
Ramadhan karais

Ramadhan karais

Sahabat-sahabat muslim fisika tercinta, pada bulan inilah kita diberi kesempatan untuk melatih, menggembleng fisik dan ruhani kita untuk selanjutnya kita benar-benar siap tempur di pada bulan yang penuh ampunan “Ramadhlan”. Rasulullah SAW bersabda :

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun tidak berpuasa sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156). Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156). Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sahabat-sahabat, yuk kita persiapkan Ramadhlan tahun ini sebaik-baiknya, karena tidak ada yang bisa menjamin masing-masing dari kita diberi kesempatan berjumpa denganya.

_muslim fisika_ 🙂





Al Qur’an dan Kita

28 07 2009

al-quran

5M Al Qur’an adalah membaca, mendengarkan, menghapal, mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an. “Mengapa kita harus melaksanakan 5M tersebut”mungkin pertanyaan itu selalu ada di benak kita dan secara umum pasti kita akan menjawab “tentu saja itu merupakan perintah dari Allah Swt” betul kan?. Namun kita tidak menyadari sebenarnya apa hikmah yang tersirat di balik perintah-Nya tersebut. Kita hanya mengetahui bahwa hal tersebut hanya sekedar suruhan untuk mendapat ridha-Nya. Dalam setiap perintah Allah Swt pasti ada guna dan manfaatnya bagi diri kita, begitu juga dengan 5M Al Qur’an tersebut.

Al Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang memunculkan ilmu pengetahuan modern. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang memuat keajaiban ilmiah di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, Al Qur’an tidak bisa dilihat semata-mata sebagai buku ilmu pengetahuan dan buku peradaban. Al Qur’an lebih dari itu. Ia adalah Kitab Allah yang berisi fakta, lengkap dan komperehensif.
Di dalam Al Qur’an terdapat berbagai rahasia yang belum kita ketahui. Pada umumnya kita hanya membaca dan mendengar tanpa memahami isinya dan tujuannya. Padahal jika kita lihat kembali pada masa kejayaan Islam, Al Qur’an merupakan pedoman hidup dan “undang-undang” bagi seseorang muslim untuk menjalani kehidupannya. Karena hal itulah pada masa tersebut muncul berbagai cendikiawan muslim yang karyanya dipakai sebagai dasar di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina dengan karyanya Al Qanun Fit Tib yang menjadi dasar ilmu kedokteran.

Jika kita melihat pada sekarang ini, remaja kita banyak yang meninggalkan Al Qur’an, jangan dulu untuk mengamalkannya untuk membaca saja mereka terlihat enggan. Padahal jika mereka tahu rahasia dibalik kekuatannya, mereka akan berlomba-lomba untuk mempelajari dan mengamalkannya. Salah satu kekuatan Al Qur’an adalah dapat membantu untuk meraih prestasi. Sebagai seorang pelajar kita tentu kita ingin berprestasi baik dalam akademik maupun non-akademik karena itu Al Qur’an-lah jawabannya.
Dalam buku best seller berjudul Quantum Learning Plus karya Dr. Husein Syahatah Guru Besar Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Al Qur’an mempunyai kekuatan utama untuk mencapai prestasi yaitu menguatkan memori hafalan, menambah kecerdasan, membina kerangka berpikir dan retorika. Begitu juga membebaskan ketegangan jiwa. Tentu pendapat ini bukan asal-asalan, hal ini berdasarkan Ayat-ayat Al Qur’an sendiri.

250px-Opened_Qur'an

Al Qur’an merupakan kitab Allah yang luar biasa. Bukan hanya kitab peradaban yang sangat cocok pada zaman apapun, Al Qur’an juga mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Salah satunya dapat meningkatkan kekuatan otak manusia hingga pada kekuatan maksimal. Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh para ahli dengan menggunakan alat-alat modern membuktikan bahwa setiap kita membaca Al Qur’an otak kita sedang dalam kondisi gelombang Alpha. Menurut para pakar kedokteran jika kita berada di kondisi gelombang itu, kita sedang rileks dan otak kita dalam keadaan yang paling baik untuk belajar. Bukan hanya itu saja Al Qur’an juga dapat membawa kita di gelombang Theta di mana organ yang berkuasa atas tubuh kita sedang memiliki emosi yang kuat dan konsentrasi tertinggi. Itu baru dengan membaca apalagi dengan memahami isinya dan mengamalkannya tentu Allah Swt. melalui Kitabnya itu akan memberi nilai lebih kepada kita. Oleh karena itu AYO kita mengaji dan memahami isi Al Qur’an selain mendapat pahala dan wawasan tentang hidup, kita juga dapat menjadi cerdas karenanya. Sekali lagi pokoknya kita tidak boleh malas membaca dan memahami Kitab Allah Swt. yang sangat-sangat luar biasa itu OK





Do’a Bulan Rojab

1 07 2009

“Allahuma Bariklana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna fi Ramadhan”

(Selamat memasuki bulan Rajab, semoga dapat bersegera mempersiapkan diri menyambut Ramadhan”).

Teman-teman sekalian, tidak terasa 2 bulan kedepan kita akan menghadapai sebuah moment  yang sangat luar biasa. Bulan Ramadhan. Bulan yang agung, bulan penuh ampunan. Semoga Allah SWT. menyampaikan kita pada bulan yang agung tersebut, karena tidak ada yang bias menjamin apakah kita masih punya hak dan masih diberi kesempatan hidup. Bulan Rajab yang sedang kita jalani semoga bsa melatih serta menggembleng diri kita, baik fisik/jasmani maupun ruhani.

Tidak lupa mari kita saling mengingatkan, jangan lupa untuk berdo’a pada bulan Rajab ini.

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Allahuma Bariklana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna fi Ramadhan.

Selain itu sangat penting bagi kita untuk menjaga kebugaran jasmani maupun ruhani. Latihlah jasmani kita dengan banyak melakukan shoum sunnah dan banyak berolah raga. Sehingga ketika datang Ramadhan kita tidak kaget lagi dengan kondisi tubuh kita. Tentunya kita lebih kuat dalam melaksanakan ibadah puasa karena sudah terbiasa selama Ramadhan insya Allah badan akan terjaga kebugarannya dari pagi sampai waktu berbuka.

Serta yang tak kalah pentingnya adalah persiapan ruhani. Biasakanlah untuk melakukan Qiyamullail atau shalat tahajud, memperbanyak tadarus Al-Quran dan amalan sunah yang lainnya. Sehingga kita Ramadhan tiba sudah terbiasa Qiyamullail tadarus Al-Quran pun akan terasa mudah karena sudah terbiasa. Dan tidak terlupakan membiasakan diri untuk meninggalkan akhlak tercela yang sering dilakukan serta meminta maaf kepada keluarga, kerabat, sahabat, atau tetangga, karena mungkin ada perbuatan atau perkataan yang menyakiti hati mereka.

Demikianlah sedikit pesan bagi kita semua. Semoga menjadipengingatserta nasehat.






Nazhar Sebelum Menikah

15 05 2009

Seorang pemuda yang hendak menikahi seorang wanita, bolehkah dia memandang wanita tersebut, bagaimana batasannya, dan kapan diperbolehkan?
(Abu Abdirrahman, aris…@gawab.com)

Jawab:
Alhamdulillah. Haramnya seorang lelaki memandang wanita yang bukan mahramnya termasuk dalam kategori tahrimul wasilah. Artinya, diharamkan karena merupakan wasilah (perantara) yang akan menyeret kepada perkara inti yang memang haram pada asalnya. Sehingga seluruh wasilah dan dzari’ah (jalan) menuju perkara tersebut ditutup oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan cara diharamkan. Kaidah ini dikenal di kalangan ulama dengan istilah saddudz-dzari’ah (menutup jalan/wasilah).
Sesuatu yang pengharamannya termasuk dalam bab ini, bisa dibolehkan ketika ada hajat (tuntutan) kebutuhan meskipun bukan darurat. Ini adalah ushul (prinsip hukum) yang dipegang oleh Al-Imam Ahmad, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (23/186-187, 214-215).
Berdasarkan hal ini, tatkala seorang lelaki berhajat untuk memperistri seorang wanita dan sebaliknya, maka hajat tersebut menuntut untuk saling mengenal terlebih dahulu. Sehingga keduanya menikah tidak secara membabi buta, yang mengandung resiko timbulnya penyesalan di kemudian hari dan berakibat tidak harmonisnya kehidupan rumah tangga mereka berdua.
Syariat yang penuh hikmah dan bijaksana ini menginginkan terciptanya rumah tangga yang harmonis, yang terbina di atas cinta dan kasih sayang, agar pasangan suami istri hidup tenang dan bahagia. Dengan demikian keduanya akan memiliki ‘iffah (mampu menjaga diri dari perzinaan dan perkara-perkara yang menyeret kepada perbuatan zina) serta mampu ber-ta’awun (bekerja sama dan saling membantu) dalam menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga diri dari maksiat. Demikian pula berbagai maslahat lainnya yang merupakan tujuan disyariatkannya pernikahan. Wallahu ‘alimun hakim (Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana).
Dalam rangka memenuhi tuntutan hajat ini, maka seorang lelaki yang hendak menikahi seorang wanita diizinkan untuk melakukan nazhar (melihat dan mengamati dengan seksama) wanita yang hendak dilamarnya. Sebagaimana dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

“Apabila salah seorang kalian melamar seorang wanita, hendaklah dia memandang bagian tubuhnya yang akan menjadikannya tertarik untuk menikahinya, jika dia mampu melakukannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya, dihasankan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 99 dan Al-Irwa` no. 1791)
Begitu pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang mengisahkan seorang lelaki yang datang dan mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia telah melamar seorang wanita dari kalangan Anshar. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:

أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ اْلأَنْصَارِ شَيْئًا

“Apakah engkau telah melihatnya?” Lelaki itu menjawab: “Belum.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Hendaklah engkau melihatnya terlebih dahulu karena pada mata wanita-wanita Anshar ada sesuatu.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa`i)
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum nazhar. Sebagian mereka mengatakan hukumnya mubah (boleh), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah mustahab.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/125-126, cetakan Darul Atsar): “Yang benar dalam masalah ini hukumnya sunnah (karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya). Jika seseorang telah mengenalnya tanpa melakukan nazhar maka tidak ada hajat baginya untuk melakukan nazhar. Seperti halnya bila dia mengutus seorang wanita yang benar-benar dia percayai untuk mengenali wanita yang hendak dipinangnya (dan dia bersandar dengan berita dari wanita itu). Meskipun demikian, pada hakekatnya nazhar orang lain tidak cukup mewakili nazhar yang dilakukan sendiri. Karena boleh jadi wanita itu cantik di mata orang lain, namun belum tentu cantik di mata sendiri.1 Boleh jadi wanita itu dinazhar dalam keadaan gembira dan riang, yang tentu saja berbeda jika dinazhar dalam keadaan sedih. Juga, terkadang wanita yang dinazhar berusaha untuk tampil cantik dengan berdandan menggunakan make up, sehingga disangka cantik padahal tidak demikian hakikatnya.”
Perlu diketahui bahwa nazhar yang syar’i memiliki beberapa persyaratan:
1. Nazhar hanya terbatas pada bagian tubuh tertentu. Batasan ini diperselisihkan para ulama. Dalam hal ini, Al-Imam Ahmad memiliki tiga riwayat (pendapat).
Riwayat pertama sama dengan pendapat jumhur ulama, yang mengatakan bahwa yang boleh dilihat adalah sebatas wajah dan telapak tangan.
Riwayat kedua, beliau berpendapat bahwa boleh untuk melihat bagian tubuhnya yang biasa nampak dan terlihat dalam kesehariannya ketika di rumah saat bersama mahramnya, seperti wajah, kepala, leher, lengan, dan betis.
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menerangkan riwayat ini: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan untuk nazhar secara mutlak, baik dengan seizin dan sepengetahuan si wanita yang bersangkutan ataupun tidak, berarti beliau mengizinkan untuk melihat apa yang biasa terlihat dalam kesehariannya ketika di rumah bersama mahramnya. Karena ketika melakukan nazhar secara diam-diam tanpa seizin dan sepengetahuan si wanita, maka tidak mungkin membatasi diri hanya melihat wajah saja. Bahkan bagian-bagian tubuh lainnya yang biasa nampak tentu akan terlihat pula.”
Riwayat ketiga sama dengan pendapat Azh-Zhahiriyah, yakni boleh melihat seluruh bagian tubuh tanpa kecuali. (Lihat Al-Mughni, 6/387-388, Tahdzib Sunan Abi Dawud hadits no. 2068, dan Nailul Authar, 6/111)
Dan yang rajih adalah riwayat/pendapat kedua dari Al-Imam Ahmad.
Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatin Nadiyyah (2/154): “Jika hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu tidak menunjukkan apa yang dikatakan Ibnu Hazm (yakni pendapat Azh-Zhahiriyyah) maka tidak diragukan lagi bahwa hadits tersebut menunjukkan makna lebih dari batasan yang disebutkan oleh jumhur. Wallahu a’lam.”
Asy-Syaikh Al-Albani juga berkata dalam Ash-Shahihah (1/157): “Riwayat yang kedua dari Al-Imam Ahmad lebih dekat kepada dzahir2 hadits dan praktik para shahabat. Wallahu a’lam.”
Pendapat ini juga dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/126).
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Jika dia belum melihat sesuatu yang menjadikan dia tertarik pada nazhar yang pertama, boleh baginya untuk mengulangi nazhar untuk yang kedua atau ketiga kalinya.”
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan secara mutlak tanpa membatasi satu kali saja.
2. Nazhar dilakukan tanpa khalwat (berduaan). Karena tidak ada tuntutan hajat dan maslahat untuk ber-khalwat. Bahkan bisa menjatuhkan keduanya dalam perkara-perkara yang melanggar syariat, sehingga hal ini tetap haram hukumnya. Jadi, nazhar dilakukan dengan cara ditemani oleh wali atau mahram si wanita.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Jika tidak mungkin (nazhar ditemani walinya) maka boleh bagi si lelaki untuk bersembunyi di tempat yang akan dilewati wanita tersebut dan mengamatinya secara diam-diam.”
3. Nazhar dilakukan tanpa disertai syahwat. Karena wanita tersebut belum menjadi istrinya, sehingga tidak dibenarkan dia bersenang-senang dengan memandanginya disertai syahwat.
4. Nazhar dilakukan apabila si lelaki telah bertekad untuk melamar si wantia. Jika sekedar coba-coba, atau barangkali dan barangkali, maka tidak dibenarkan. Karena pada asalnya, nazhar hukumnya haram. Hanya saja diizinkan ketika ada kebutuhan dan maslahat pernikahan. Sehingga nazhar tidak boleh melampaui apa yang diizinkan syariat.
5. Nazhar dilakukan apabila ada ghalabatuzh zhann (persangkaan kuat) bahwa lamarannya akan diterima. Seandainya dia seorang yang fakir atau miskin, kemudian menazhar anak seorang pejabat, atau seorang lanjut usia menazhar seorang gadis belia, perawan dan cantik, maka kemungkinan besar lamarannya akan ditolak. (Al-Mughni, 6/387-388, Asy-Syarhul Mumti’, 5/126-127)
Terakhir, sebagai peringatan, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/126): “Tidak boleh melakukan percakapan dengan wanita yang dinazhar saat melakukan nazhar. Karena percakapan lebih membangkitkan syahwat dan lebih menggoda untuk menikmati suaranya dari sekedar nazhar. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: ‘Hendaklah ia memandang dari tubuhnya’, bukannya mengatakan: ‘Hendaklah dia mendengar suaranya’.”
Wallahu a’lam.

1 Karena kecantikan adalah sesuatu yang relatif. (pen.)
2 Makna hadits yang nampak dan terpahami secara langsung. (pen.)

Hukum Memakai Cincin Kawin/Cincin Pertunangan

Apa hukumnya memakai cincin kawin atau cincin pertunangan?
(Mawardi, Banjarmasin)

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.
Telah diajukan pertanyaan seputar masalah ini kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah. Dan beliau berfatwa:
“Cincin tunangan adalah ungkapan dari sebuah cincin (yang tidak bermata). Pada asalnya, mengenakan cincin bukanlah sesuatu yang terlarang kecuali jika disertai i’tiqad (keyakinan) tertentu sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Seseorang menulis namanya pada cincin yang dia berikan kepada tunangan wanitanya, dan si wanita juga menulis namanya pada cincin yang dia berikan kepada si lelaki yang melamarnya, dengan anggapan bahwa hal ini akan menimbulkan ikatan yang kokoh antara keduanya. Pada kondisi seperti ini, cincin tadi menjadi haram, karena merupakan perbuatan bergantung dengan sesuatu yang tidak ada landasannya secara syariat maupun inderawi (tidak ada hubungan sebab akibat).1
Demikian pula, lelaki pelamar tidak boleh memakaikannya di tangan wanita tunangannya karena wanita tersebut baru sebatas tunangan dan belum menjadi istrinya setelah lamaran tersebut. Maka wanita itu tetaplah wanita ajnabiyyah (bukan mahram) baginya, karena tidaklah resmi menjadi istri kecuali dengan akad nikah.” (sebagaimana dalam kitab Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 113, dan Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, hal. 476)

Telah diajukan juga sebuah pertanyaan kepada Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah: “Apa hukum mengenakan cincin atau cincin tunangan apabila terbuat dari perak atau emas atau logam berharga yang lain?”
Beliau menjawab: “Seorang lelaki tidak boleh mengenakan emas baik berupa cincin atau perhiasan yang lain dalam keadaan apapun. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan emas atas kaum laki-laki umat ini. Dan beliau melihat seorang lelaki yang mengenakan cincin emas di tangannya maka beliaupun melepas cincin tersebut dari tangannya. Kemudian beliau berkata:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَضُعَهَا فِي يَدِهِ؟

“Salah seorang kalian sengaja mengambil bara api dari neraka lalu meletakkannya di tangannya?”
Maka, seorang lelaki muslim tidak boleh mengenakan cincin emas. Adapun cincin selain emas seperti cincin perak atau logam yang lain, maka boleh dikenakan oleh laki-laki, meskipun logam tersebut sangat berharga. Mengenakan cincin tunangan bukanlah adat kaum muslimin (melainkan adat orang-orang kafir). Apabila cincin itu dipakai disertai dengan i’tiqad (keyakinan) akan menyebabkan terwujudnya rasa cinta antara pasangan suami istri dan jika ditanggalkan akan memengaruhi langgengnya hubungan keduanya, maka yang seperti ini termasuk syirik.2 Dan ini merupakan keyakinan jahiliyah.
Maka, tidak boleh mengenakan cincin tunangan dengan alasan apapun, karena:
1. Merupakan perbuatan taqlid (membebek) terhadap orang-orang yang tidak ada kebaikan sedikitpun pada mereka (yakni orang-orang kafir), di mana hal ini adalah adat kebiasaan yang datang ke tengah-tengah kaum muslimin, bukan adat kebiasaan kaum muslimin.
2. Apabila diiringi dengan i’tiqad akan memengaruhi keharmonisan suami istri maka termasuk syirik.
Wala haula wala quwwata illa billah. (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, hal. 476-477)

Kedua ulama ini sepakat bahwa jika cincin tunangan itu dipakai disertai i’tiqad yang disebutkan maka hukumnya haram dan merupakan syirik kecil. Adapun bila tanpa i’tiqad tersebut, keduanya berbeda pendapat. Dan pendapat Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan lebih dekat kepada al-haq dan lebih selamat. Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Menjadikan perkara tertentu sebagai sebab dalam usaha mencapai sesuatu, padahal syariat tidak memerintahkannya, dan tidak ada pula hubungan sebab akibat antara perkara tersebut dengan tujuan yang akan dicapai (secara tinjauan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur kejadian alam), adalah perbuatan syirik kecil; yang merupakan wasilah yang akan menyeret seseorang untuk terjatuh dalam perbuatan syirik besar yang membatalkan keislamannya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kesyirikan. (pen)
2 Yakni syirik kecil. (pen.)

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=409